Komunitas Profesional Muda Indonesia di AS Resmi Diluncurkan di New York, Gelar Forum tentang Masa Depan Investasi Hijau Indonesia
- Sanara Indonesia

- May 1
- 3 min read
NEW YORK, 24 April 2026 — SANARA (Sustainability Network of Nusantara) resmi diluncurkan hari ini di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York, menyelenggarakan forum publik tentang masa depan investasi hijau Indonesia bersama Sustainable Investing Research Initiative (SIRI) Columbia SIPA. Sore itu mengumpulkan 40 hingga 50 profesional, peneliti, dan investor untuk dua sesi diskusi panel tentang apa yang dibutuhkan agar transisi energi Indonesia bergerak dari ambisi menjadi eksekusi nyata.
Kesenjangan kebijakan itu nyata, dan begitu pula peluangnya
Mantan Menteri Keuangan dan anggota Dewan Ekonomi Nasional, Dr. Chatib Basri, langsung menetapkan nada diskusi. "Investasi energi terbarukan hanya akan berhasil jika kita memperbaiki struktur harga," ujarnya. "Selama subsidi bahan bakar fosil terus berlanjut, tidak ada banyak insentif untuk energi terbarukan." Ia menyerukan dua langkah yang bisa segera dilakukan: penghapusan subsidi BBM, yang disebutnya sebagai triple win bagi iklim, masyarakat miskin, dan makroekonomi, serta pemangkasan hambatan birokrasi. "Lakukan deregulasi ekonomi. Saya menyebutnya stimulus tanpa biaya fiskal."
Ana Maria Camelo Vega dari Columbia Center on Sustainable Investment mempertanyakan cara risiko Indonesia diukur selama ini. "Risiko yang dipersepsikan sebenarnya jauh lebih tinggi dari risiko yang sesungguhnya," katanya. "Peringkat sovereign tidak selalu akurat. Kita butuh pengukuran yang lebih granular dan berakar pada realitas lokal." Prof. Zongyuan (Zoe) Liu, peneliti senior IGP di Columbia SIPA sekaligus penulis Sovereign Funds, menambahkan bahwa desain kebijakan yang baik bukan merupakan kendala utama. "Bagaimana memastikan pemerintah bisa menyampaikan kebijakan yang tepat dan mengelola konsekuensi yang tidak diinginkan, itu mungkin lebih penting dari jenis kebijakan apa yang ingin dikejar."
Dr. Nnamdi Igbokwe, Direktur Blended Finance di SIRI Columbia University, berargumen bahwa pendekatan pembiayaan itu sendiri perlu bergeser. "Kita tidak bisa lagi melihat blended finance secara deal per deal," tegasnya. "Harus mulai membangun pasar, meninggalkan jejak di setiap transaksi agar pasar bisa belajar dan berkembang secara mandiri."
Di lapangan, kesenjangan itu terlihat berbeda
Sesi kedua bergerak dari tataran makro ke realitas di lapangan. Tessal Maharizky Febrian, Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, menunjuk pada kemajuan regulasi yang nyata, termasuk UU Omnibus, sistem Online Single Submission, dan regulasi 2025 yang secara otomatis menerbitkan izin setelah jendela evaluasi kementerian berakhir. Ia menegaskan bahwa pesan ini masih perlu disampaikan secara konsisten kepada investor. "Kita perlu berada di halaman yang sama. Indonesia sangat prospektif, dan ini adalah waktu yang tepat."
Rizka Gita Miranti, Ketua HIPMI Institute, memberikan gambaran paling membumi sore itu. "Peluang untuk keberlanjutan sangat besar," ujarnya, "namun kenyataan pahitnya adalah banyak wirausahawan lokal, terutama di luar Jakarta, mungkin belum siap untuk meraih investasi tersebut. Itulah kesenjangan yang sedang kami coba tutup." Organisasinya bekerja menjembatani kesenjangan itu melalui pengembangan kapasitas, kemitraan pendidikan internasional, dan program kesiapan investasi yang mengurasi bisnis untuk pencocokan dengan investor.
Yemima Silitonga dari Indonesia Financial Group membawa perspektif pembiayaan tentang apa yang sesungguhnya mendapat pendanaan. "Tidak semua modal itu sama," katanya. "Tantangannya bukan hanya menarik investor, tapi menemukan keselarasan antara proyek kita dan tujuan mereka." Stabilitas pendapatan, hubungan jangka panjang dengan pembeli, dan kepatuhan ESG semuanya menjadi pertimbangan, bahkan sebelum faktor kebijakan menjadi bahan diskusi.
Acara ini juga memberikan penghargaan kepada delegasi Pemerintah Kota Makassar, pemenang program RISE dari World Resources Institute di bidang kesehatan dan perencanaan kota, sebagai pengingat bahwa percakapan yang berlangsung di New York memiliki dampak nyata di seluruh penjuru kepulauan.
Tentang SANARA
SANARA (Sustainability Network of Nusantara) adalah komunitas 180+ profesional muda dan mahasiswa Indonesia yang berbasis terutama di Amerika Serikat, berafiliasi dengan Columbia, Stanford, Cornell, dan Carnegie Mellon. Beroperasi melalui lima pilar program: Community Activation, People Development, Media and Public Engagement, Sustainable Partnership, dan Research and Advisory.
Linkedin : SANARA Indonesia
Instagram: @sanara.indonesia








Comments